Kalau Anda percaya Indonesia memiliki entrepreneur politik atau birokrat entrepreneur: Jokowi orangnya. Walikota Solo itu mampu mencuri perhatian dunia. Tiba-tiba kotamadya yang tak terlalu dikenal ini menyelenggarakan berbagai acara internasional.
Apa itu MICE? Ini singkatan dari Meeting (pertemuan), Incentive (wisata korporat), Coference (konferensi), Exhibition (pameran). Turis-turis MICE biasanya menghabiskan uang antara US$ 700 sampai US$ 1.000 per hari, bandingkan dengan turis biasa yang menurut data Badan Pusat Statistik yang hanya berbelanja US$ 100 per hari. Makanya, kota yang disambangi turis MICE selalu sejahtera.
Itupula yang terpikir dibenak Jokowi alias Joko Widodo, Walimkota Solo. Gara-gara berbisnis furniture sebelum menjadi walikota, berkelilinglah dia di seantero Timur Tengah, Eropa, sampai Asia Pasifik berdagang furnitur. Dia mengambil kesimpulan, kota-kota kecil di Jepang, Korea, di Jerman, justru hidup dari industri MICE. Makanya dia berpikir pastilah Solo bisa meningkat kesejahteraannya dengan adanya turis-turis MICE.
Lantas, mula-mula dia membersihkan kotanya sebelum membangun berbagai fasilitas MICE. Setahun setelah menjadi penggede di Balai Kota Solo, Jokowi melakukan langkah pertamanya membenahi kotanya. Sebuah kawasan yang dulu dibangun sebagai taman kota, Banjarsari namanya, sudah sejak lama berubah kumuh karena pedagang kaki lima berderet tanpa aturan. Pemerintah Kota pun melakukan pendekatan agar mereka bersedia secara sukarela pindah ke tempat yang direncanakan, ke sentra perdagangan di kawasan selatan yang dinamakan Pasar Klithikan Notoharjo. Klithikan, kurang lebih bermakna barang bekas. Sukses, meski memerlukan waktu lama untuk membujuk para pedagang kaki lima itu.
Ketika semua pakar ekonomi liberal mendewa-dewakan pertumbuhan ekonomi, dengan bukti angka-angka statistik, yang kerap tak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Itulah saatnya para entrepreneur bekerja mengentaskan kemiskinan.
Inilah pertanyaan para pengusaha, bankir, atau para pemberi kredit, bisakah orang miskin di kota, di pedesaan, atau di kampung-kampung nelayan bisa dipercaya mengelola kredit? Pertanyaan ini pernah pula menggayut di benak Muhammad Yunus, seorang profesor di Universitas Chittagong, Bangladesh.
Yunus lantas mengamati perilaku orang miskin di kota, pedesaan, dan kawasan pantai. Mereka umumnya giat bekerja pula. Bangun sebelum matahari terbit dan pulang ke rumah ketika senja telah pekat. Mereka juga cakap bekerja. Yunus optimistis bahwa ketika penduduk miskin diberi kredit, mereka pasti dapat mengembalikan, dengan dukungan sistem dan prosedur yang kondusif. Bertolak dari sini, lahirlah Grameen Bank (GB) pada 1974.
Pembentukan GB sempat terbentur undang-undang perbankan setempat, terutama soal agunan kredit. Padahal keistimewaan ide Yunus justru terletak pada tidak adanya persyaratan agunan. Buat Yunus, mustahil mensyaratkan agunan bagi penduduk miskin di Bangladesh. Di negara itu, agunan yang paling lazim dan bisa diterima kreditor adalah aset tanah. Padahal sasaran Yunus, adalah penduduk termiskin dan buta huruf yang tak memiliki tanah.